PUASA (MASIH) MENCELA?H. Maksis Sakhabi, S. Sos.I., M.AP(Ketua ICMI Orda Kabupaten Tangerang)

Ramadhan tiba. Kewajiban esensial yang disampaikan dalam Firman Allah SWT adalah berpuasa. namun kewajiban itu ditujukan bagi orang-orang yang meng-Imani ke-Esaan Allah. Kata lain adalah puasa wajib hukumnya bagi ummat Islam (lihat QS. Al Baqoroh:183). Hukum wajibnya berpuasa bagi kaum muslimin dan muslimat ini tentu dengan hadirnya hukum yang berubah pula, manakala didapati kedaan-keadan tertentu, seperti orang yang sakit, udzur berkepanjangan, bepergian jauh, terdapat hukum yang merubah kewajiban seorang muslim untuk berpuasa.
Ada hal yang harus diperhatikan ketika menjalankan ibadah puasa, yaitu tak sekedar menahan lapar dan dahaga. Kata itu sering diucapkan para muballighin ketika berkhotbah. Memang demikian adanya, puasa yang berasal dari kata shiyam atau shoumu merupakan bentuk kata masdar, yang berarti menahan (imsak). Dilanjutkan dengan pengertian secara syara’ yaitu menahan dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak dimulainya waktu imsak hingga sampai waktu berbuka.

Orang berpuasa mungkin hanya terlihat nampak tak makan dan tak minum. Tetapi tidak diketahui apa yang ada dalam isi hati dan pikirannya? Keadaan ini juga mesti dikelola oleh orang yang berpuasa, yakni menahan hal-hal yang buruk yang keluar dari dirinya. Misalnya, membicarakan keburukan orang, mencela sesuatu yang tidak diinginkannya, mengingkari ketetapan Allah, dan sebagainya.

Dalam kitab Fathul Qorib dijelaskan perbuatan buruk yang keluar dari lisan seperti mencela orang lain (kassatmi) adalah bagian dari hal yang dibenci oleh Allah, terlebih ketika sedang berpuasa. Maka dari itu, tidak melakukannya dikategorikan sunnah. Mencela bisa saja tidak kita sadari, karena dianggap hanya meluapkan emosi tinggi, mencela hanya dianggap sebagai luapan kemarahan dan seterusnya. Mencela seringkali tak disadari, karena sudah dianggap biasa dan menjadi kebiasaan seseorang. Maka, para sufi menyebut orang yang puasa hendaknya juga mampu menahan amarah dan menjaga lisan, pikiran dan hati dari keburukan. Sebab ini menyebabkan puasa seseorang hanya terlihat menahan lapar dan dahaga semata.

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ”Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath-Thabraniy, Ibnu Majah, dan An-Nasa’i).
Kita semua berharap puasa kita menjadi puasa yang bernilai tinggi di mata Allah SWT, yaitu menjadikan kita sebagai pribadi yang Takwa. Maka, hindari mencela sesuatu, orang lain atau diri kita sendiri yang menjadi ketetapan Allah STW.
Kehidupan kita saat ini banyak circle, kelompok, organisasi yang berpotensi besar menyebabkan kita untuk mencela orang lain. Ketika kita tidak senang dengan seseorang, ketika itu kita berpotensi mencelanya. Ketika kita tidak membenci orang lain pun, namun kita merasa paling pintar, paling rajin, paling baik disitu juga berpotensi mencela orang lain. Maka, hati-hati dengan perbuatan mencela ini, mudah dilakukan dan tanpa disadari. Selamat Menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan!.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *